FAKTOR RESIKO YANG MEMPENGARUHI TIMBULNYA ASMA PADA PASIEN DI RSUD BANGIL
Abstract
Asma merupakan penyakit peradangan kronis pada saluran pernafasan yang ditandai dengan sesak nafas, pembengkakan serta produksi lendir berlebih. Pengendalian penyakit asma diperburuk dengan kurangnya individu mencegah kontak dengan faktor resiko yang dapat memicu timbulnya serangan asma. Hal tersebut yang menyebabkan penyakit asma hingga kini masih menjadi permasalahan kesehatan yang menjadi ancaman serius bagi masyarakat di Indonesia. Metode penelitian yang digunakan yaitu deskriptif survey. Populasi dalam penelitian ini yaitu semua pasien rawat inap yang menjalani perawatan di RSUD Bangil dan menggunakan teknik purposive sampling sehingga didapatkan 70 responden. Hasil penelitian didapatkan pada faktor usia sebagian besar berusia remaja yaitu 18 orang (25.7 %), faktor jenis kelamin sebagian besar perempuan yaitu 43 orang (61.4 %), faktor riwayat keluarga sebagian besar memiliki riwayat keluarg dengan asma yaitu 63 orang (90 %), faktor stress sebagian besar memiliki tingkat stress sedang yaitu 16 orang (22.9 %) dan faktor alergi sebagian besar pada debu dan asap rokok yaitu 53 responden (75.7 %). Pada usia remaja terjadi peningkatan intensitas paparan faktor risiko asma karena tingginya aktifitas pada saat usia remaja. Pada responden perempuan lebih tinggi dikarenakan pengaruh dari hormon estrogen dan progesteron. Pada faktor riwayat keluarga, genetik orang tua yang memiliki asma akan berdampak pada anak. Pada faktor stress dipengaruhi oleh hormon yang mengakibatkan penurunan imunitas. Pada faktor allergen, asap rokok dan debu akan mempermudah munculnya mediator inflamasi yang menyebabkan asma.