<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>SKRIPSI S1 KEPERAWATAN</title>
<link>https://repositori.ubs-ppni.ac.id/xmlui/handle/123456789/5</link>
<description/>
<pubDate>Tue, 16 Jun 2026 16:05:27 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-06-16T16:05:27Z</dc:date>
<item>
<title>HUBUNGAN ANTARA TINGKAT NYERI DENGAN KUALITAS HIDUP PASIEN ASAM URAT DI PUSKESMAS KRANGGAN KOTA MOJOKERTO</title>
<link>https://repositori.ubs-ppni.ac.id/xmlui/handle/123456789/4263</link>
<description>HUBUNGAN ANTARA TINGKAT NYERI DENGAN KUALITAS HIDUP PASIEN ASAM URAT DI PUSKESMAS KRANGGAN KOTA MOJOKERTO
Arianto, Fajar
Asam urat adalah kondisi metabolik yang ditandai oleh rasa sakit pada sendi dan dapat berdampak pada kualitas hidup penderitanya. Nyeri yang dialami pasien sering dikaitkan dengan penurunan kualitas hidup, namun bukti empiris mengenai hubungan kedua variabel ini masih perlu dikaji lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat nyeri dengan kualitas hidup pasien asam urat.Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 120 responden yang dipilih menggunakan teknik total sampling di Puskesmas Kranggan Kota Mojokerto. Instrumen penelitian meliputi kuesioner Numeric Rating Scale (NRS) untuk mengukur tingkat nyeri dan kuesioner HRQoL untuk mengukur kualitas hidup. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman Rank (Spearman's Rho).Sebagian besar responden mengalami nyeri ringan (65%) dan nyeri sedang (24,2%). Kualitas hidup responden mayoritas berada pada kategori sedang (47,5%) dan baik (40,8%). Hasil uji Spearman Rho menunjukkan nilai koefisien korelasi r = 0,384 dengan nilai signifikansi p = 0,011 (p &lt; 0,05).Terdapat hubungan yang signifikan dengan arah negatif dan kekuatan lemah antara tingkat nyeri dan kualitas hidup pasien asam urat. Hal ini berarti semakin tinggi tingkat nyeri, semakin rendah kualitas hidup pasien. Temuan ini sejalan dengan penelitian Hirsch (2010), Chandratre (2013), dan Watson (2023) yang menyatakan nyeri sebagai prediktor utama penurunan kualitas hidup pada pasien gout. Kekuatan hubungan yang lemah mengindikasikan bahwa kualitas hidup dipengaruhi oleh faktor multifaktorial seperti usia, dukungan keluarga, dan adaptasi psikologis. Penanganan asam urat memerlukan pendekatan holistik tidak hanya berfokus pada manajemen nyeri tetapi juga intervensi psikososial dan edukasi berkelanjutan.
</description>
<pubDate>Tue, 24 Feb 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://repositori.ubs-ppni.ac.id/xmlui/handle/123456789/4263</guid>
<dc:date>2026-02-24T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Hubungan Durasi Penggunaan Gadget dengan Gangguan Tidur pada Siswa Sekolah Dasar Negeri Tempurejo 01 Jember</title>
<link>https://repositori.ubs-ppni.ac.id/xmlui/handle/123456789/4262</link>
<description>Hubungan Durasi Penggunaan Gadget dengan Gangguan Tidur pada Siswa Sekolah Dasar Negeri Tempurejo 01 Jember
Shalehah, Siti
Perkembangan teknologi digital meningkatkan penggunaan Gadget pada anak sekolah dasar, sering melebihi batas aman sehingga berpotensi mengganggu pola tidur melalui paparan cahaya biru yang menghambat melatonin. Tujuan penelitian ini untuk melihat adanya hubungan antara durasi penggunaan gadget dengan gangguan pola tidur pada anak usia sekolah. Metode pada penelitian ini menggunakan desain cross-sectional. Populasi penelitian siswa kelas 5-6 di SDN Tempurejo 01 Jember dengan sampel 72 responden menggunakan total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner durasi penggunaan Gadget yang diadaptasi dari Adolescent Sendentary Questionnaire(ASAQ) dan kuesioner gangguan pola tidur diadaptasi dari SDKI. Analisis menggunakan distribusi frekuensi, tabulasi silang. Responden dengan jumlah 14 anak (19,4%) penggunaan gadget berlebih seluruhnya mengalami gangguan pola tidur sedangkan 58 anak penggunaan normal ada yang terganggu tidurnya karena faktor lain. Uji Chi-Square menunjukkan (p= 0,010) yang dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara durasi penggunaan Gadget berlebih dengan gangguan pola tidur pada anak usia sekolah dasar. Durasi penggunaan Gadget berlebih menyebabkan paparan layar bercahaya dapat mengganggu produksi melatonin sehingga menyebabkan gangguan pada pola tidur anak.
</description>
<pubDate>Mon, 18 May 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://repositori.ubs-ppni.ac.id/xmlui/handle/123456789/4262</guid>
<dc:date>2026-05-18T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>PENGARUH PEMBERIAN ROM PASIF TERHADAP WAKTU PULIH SADAR PADA PASIEN POST OPERASI DENGAN GENERAL ANASTESI DI RUANG RECOVERY ROOM RUMAH SAKIT GATOEL MOJOKERTO</title>
<link>https://repositori.ubs-ppni.ac.id/xmlui/handle/123456789/4251</link>
<description>PENGARUH PEMBERIAN ROM PASIF TERHADAP WAKTU PULIH SADAR PADA PASIEN POST OPERASI DENGAN GENERAL ANASTESI DI RUANG RECOVERY ROOM RUMAH SAKIT GATOEL MOJOKERTO
Gita, Nirmala Santi; Yuniarti, Enny Virda
Waktu pulih sadar merupakan indikator penting dalam evaluasi keselamatan pasien pasca general anestesi, salah satu komplikasi utama pasca-anastesi yaitu terjadinya pemanjangan (prolonge) waktu pulih sadar. Sering kali dapat dipicu oleh efek residu anestesi serta kurangnya stimulasi fisiologis tubuh, yang berpotensi menimbulkan komplikasi serius. Penilaian waktu pulih sadar menggunakan Aldrette Score sebagai standar refrensi yang digunakan untuk memastikan bahwa pengaruh sedasi benar-benar sudah hilang dan telah kembali pulih. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan pengaruh pemberian ROM pasif terhadap waktu pulih sadar pasien post operasi dengan general anestesi. Penelitian menggunakan desain quasi eksperimen dengan rancangan posttest only non equivalent control group. Populasi pada penelitian ini yaitu 30 responden dengan 15 responden  kelompok intervensi dan 15 responden pada kelompok kontrol menggunakan consecutive sampling. Hasil uji statistic menggunakan Mann-Whitney (uji beda) adalah 0.001 dengan P value &lt; 0.05. Bahwa rata-rata waktu pulih sadar terhadap penilaian Aldrete Score ≥ 8 pada kelompok intervensi lebih cepat dibandingkan kelompok kontrol yang menandakan adanya pengaruh signifikan dalam pemberian ROM pasif terhadap waktu pulih sadar pada pasien post operasi dengan General Anastesi. Secara fisiologis, ROM pasif meningkatkan aliran balik vena, ventilasi alveolar, dan metabolisme sehingga mempercepat eliminasi obat anestesi. Dengan demikian, ROM pasif berpengaruh signifikan terhadap percepatan waktu pulih sadar pasien post operasi dengan General Anestesi di RS Gatoel mojokerto
</description>
<pubDate>Thu, 04 Jun 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://repositori.ubs-ppni.ac.id/xmlui/handle/123456789/4251</guid>
<dc:date>2026-06-04T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>HUBUNGAN POLA ASUH ORANG TUA DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA BALITA DI UPTD PUSKESMAS WITIHAMA, KABUPATEN FLORES TIMUR</title>
<link>https://repositori.ubs-ppni.ac.id/xmlui/handle/123456789/4248</link>
<description>HUBUNGAN POLA ASUH ORANG TUA DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA BALITA DI UPTD PUSKESMAS WITIHAMA, KABUPATEN FLORES TIMUR
Ola Masan, Emanuel Fransiskus; Zainuri, Imam; Peni, Tri
Stunting merupakan masalah gizi kronis yang masih menjadi tantangan kesehatan &#13;
masyarakat di Indonesia, terutama pada periode 1000 Hari Pertama Kehidupan. &#13;
Pola asuh orang tua berperan penting dalam pemenuhan gizi, kebersihan, dan &#13;
pemanfaatan layanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis &#13;
hubungan antara pola asuh orang tua dengan kejadian stunting pada balita di &#13;
wilayah kerja UPTD Puskesmas Witihama. Penelitian ini menggunakan desain &#13;
analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian &#13;
berjumlah 151 responden, diperoleh dengan probability sampling menggunakan &#13;
teknik cluster sampling, dengan unit cluster berdasarkan desa di wilayah kerja &#13;
UPTD Puskesmas Witihama. Instrumen menggunakan kuesioner yang disebarkan &#13;
langsung ke responden, sedangkan status stunting ditentukan berdasarkan indeks &#13;
TB/U sesuai standar WHO. Analisis hubungan dilakukan menggunakan uji &#13;
Spearman Rho. Pola asuh paling dominan adalah demokratis (62,9%), diikuti &#13;
otoriter (25,2%) dan permisif (11,9%). Prevalensi stunting mencapai 51,0%, &#13;
sedangkan 49,0% balita tidak stunting. Uji Spearman Rho menunjukkan adanya &#13;
hubungan yang signifikan antara pola asuh orang tua dengan kejadian stunting pada &#13;
balita (p = 0,000; r = 0,372). Proporsi stunting tertinggi terdapat pada pola asuh &#13;
permisif (83,3%), disusul pola asuh otoriter (55,3%), sedangkan pola asuh &#13;
demokratis memiliki proporsi stunting terendah (43,2%). Penelitian ini &#13;
menyimpulkan bahwa pola asuh orang tua berhubungan secara signifikan dengan &#13;
kejadian stunting. Pola asuh permisif dan otoriter meningkatkan risiko stunting &#13;
melalui kurangnya regulasi makan, pengawasan, dan ketidaktepatan perawatan &#13;
kesehatan. Sebaliknya, pola asuh demokratis berperan sebagai faktor protektif. &#13;
Intervensi pencegahan stunting perlu difokuskan pada penguatan pola asuh
</description>
<pubDate>Tue, 16 Dec 2025 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://repositori.ubs-ppni.ac.id/xmlui/handle/123456789/4248</guid>
<dc:date>2025-12-16T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
