<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>KIAN PROFESI NERS</title>
<link>https://repositori.ubs-ppni.ac.id/xmlui/handle/123456789/763</link>
<description/>
<pubDate>Sat, 05 Sep 2026 05:56:50 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-09-05T05:56:50Z</dc:date>
<item>
<title>Analisis Asuhan Keperawatan Lansia Masalah Nyeri Kronis Dengan Gout Arthritis Melalui Intervensi Ergonomic Exercise di UPT Pesanggrahan PMKS Majapahit Mojokerto</title>
<link>https://repositori.ubs-ppni.ac.id/xmlui/handle/123456789/4411</link>
<description>Analisis Asuhan Keperawatan Lansia Masalah Nyeri Kronis Dengan Gout Arthritis Melalui Intervensi Ergonomic Exercise di UPT Pesanggrahan PMKS Majapahit Mojokerto
Orang tua rentan mengalami masalah kesehatan karena saat usia mereka meningkat, tubuh mulai menua. Salah satu masalah kesehatan yang bisa menyebabkan nyeri sendi adalah Gout Arthritis. Terapi non-farmakologis seperti latihan ergonomis terbukti mampu mengurangi tingkat nyeri serta keparahannya. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan cara memberikan perawatan keperawatan kepada seorang pasien lansia yang berusia 85 tahun, Tn. N yang mengalami nyeri kronis karena gout arthritis di UPT Pesanggrahan PMKS &#13;
Majapahit Mojokerto. Pendekatan dalam pelayanan perawatan terdiri dari 5 tahap yaitu pengumpulan data, penentuan masalah, perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, dan penilaian hasil. Diagnosa keperawatan utama yang ditemukan adalah nyeri kronis yang disebabkan oleh kondisi muskuloskeletal kronis. Pasien mengeluh merasakan nyeri dan kaku pada kedua lutut sejak dua tahun terakhir. Nyeri tersebut seperti tertusuk-tusuk, berlokasi di kedua lutut, dengan skala nyeri 7. Nyeri muncul setelah bangun pagi dan semakin memburuk saat bergerak, intensitasnya terus meningkat. Saat nyeri terjadi, Tn. N tampak meringis dan &#13;
gelisah. Intervensi yang diberikan mencakup pemberian terapi olahraga ergonomis selama tiga hari berturut-turut, pemantauan tanda vital, serta penyuluhan tentang cara mengelola nyeri. Hasil penilaian menunjukkan bahwa skala rasa sakit berkurang dari 7 menjadi 4 dalam waktu 3 hari. Selain itu, ada penurunan gejala menangis dan peningkatan tanda-tanda kehidupan vital. Hasil ini menunjukkan bahwa terapi ergonomic exercise berhasil mengurangi rasa sakit yang berkepanjangan pada lansia yang menderita arthritis gout.
</description>
<pubDate>Wed, 22 Jul 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://repositori.ubs-ppni.ac.id/xmlui/handle/123456789/4411</guid>
<dc:date>2026-07-22T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>ANALISIS ASUHAN KEPERAWATAN JIWA DENGAN MASALAH ANSIETAS MELALUI PENERAPAN TERAPI MUSIK PADA PASIEN PRE OP DI RUMAH SAKIT RSI SAKINAH MOJOKERTO</title>
<link>https://repositori.ubs-ppni.ac.id/xmlui/handle/123456789/4649</link>
<description>ANALISIS ASUHAN KEPERAWATAN JIWA DENGAN MASALAH ANSIETAS MELALUI PENERAPAN TERAPI MUSIK PADA PASIEN PRE OP DI RUMAH SAKIT RSI SAKINAH MOJOKERTO
Surgery was one of the medical procedures that triggered psychological responses in the form of preoperative anxiety. Untreated anxiety affected hemodynamic stability and increased the risk of perioperative complications. Music therapy was selected because it was a safe, non-invasive, and easy-to-implement non-pharmacological nursing intervention that had been shown to promote relaxation and reduce anxiety. This study used a descriptive case study design with a nursing care process approach involving one preoperative patient with a femoral fracture and anxiety at RSI Sakinah Mojokerto. Primary data were collected through interviews, observations, physical examinations, and anxiety assessment using the Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS), while secondary data were obtained from medical records and nursing observation notes. Instrumental music therapy was administered for 15 minutes daily over three consecutive days according to the Indonesian Nursing Intervention Standards (SIKI). Data were analyzed descriptively by comparing the patient's condition before and after the intervention. Before the intervention, the patient experienced moderate anxiety with a HARS score of 25, accompanied by restlessness, insomnia, palpitations, a blood pressure of 150/95 mmHg, and a pulse rate of 104 beats/minute. After the intervention, the anxiety level decreased to mild anxiety with a HARS score of 12. Blood pressure decreased to 132/80 mmHg, pulse rate decreased to 82 beats/minute, and the patient appeared calmer with improved sleep quality. Music therapy proved effective in reducing anxiety and improving physiological responses. The findings suggested that music therapy could be applied as a simple, safe, and holistic non-pharmacological nursing intervention for preoperative patients with anxiety.
</description>
<pubDate>Fri, 28 Aug 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://repositori.ubs-ppni.ac.id/xmlui/handle/123456789/4649</guid>
<dc:date>2026-08-28T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>ANALISIS ASUHAN KEPERAWATAN MATERNITAS PADA IBU  POSTMENOPAUSE DENGAN MASALAH KECEMASAN MELALUI  PENERAPAN YOGA DI DESA JOGOSATRU KECAMATAN  SUKODONO KABUPATEN SIDOARJO</title>
<link>https://repositori.ubs-ppni.ac.id/xmlui/handle/123456789/4646</link>
<description>ANALISIS ASUHAN KEPERAWATAN MATERNITAS PADA IBU  POSTMENOPAUSE DENGAN MASALAH KECEMASAN MELALUI  PENERAPAN YOGA DI DESA JOGOSATRU KECAMATAN  SUKODONO KABUPATEN SIDOARJO
Julia Rohmawati, Tri Ajeng; Lukita Dewi, Catur Prasastia
Masa postmenopause merupakan fase alami yang ditandai dengan penurunan kadar hormon estrogen yang dapat menyebabkan berbagai perubahan fisik dan psikologis, salah satunya kecemasan. Kecemasan pada ibu postmenopause dapat memengaruhi kualitas hidup sehingga memerlukan penatalaksanaan yang tepat, salah satunya melalui penerapan yoga sebagai terapi nonfarmakologis. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis asuhan keperawatan maternitas pada ibu postmenopause dengan masalah kecemasan melalui penerapan yoga di Desa Jogosatru Kecamatan Sukodono Kabupaten Sidoarjo. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus pada satu pasien dengan pendekatan proses keperawatan yang meliputi pengkajian, diagnosis keperawatan, perencanaan, implementasi, dan evaluasi. Tingkat kecemasan dikaji menggunakan instrumen Depression Anxiety Stress Scale (DASS-42), sedangkan intervensi utama yang diberikan adalah penerapan yoga sebagai terapi relaksasi sesuai Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI). Hasil analisis asuhan keperawatan menunjukkan bahwa setelah dilakukan penerapan yoga pasien mengalami penurunan tanda dan gejala kecemasan yang ditandai dengan berkurangnya rasa gelisah dan khawatir, kualitas tidur membaik, pasien tampak lebih rileks, serta mampu mengikuti latihan yoga dengan baik. Penerapan yoga dapat digunakan sebagai salah satu intervensi keperawatan nonfarmakologis dalam membantu mengurangi kecemasan pada ibu postmenopause.
</description>
<pubDate>Tue, 14 Jul 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://repositori.ubs-ppni.ac.id/xmlui/handle/123456789/4646</guid>
<dc:date>2026-07-14T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>ANALISIS ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT PADA Ny. S DENGAN GAGAL GINJAL KRONIS MENGGUNAKAN INTERVENSI ICE CUBES UNTUK MENGURANGI RASA HAUS PADA PASIEN HIPERVOLEMIA DI ICU TERATAI RSUD BANGIL PASURUAN</title>
<link>https://repositori.ubs-ppni.ac.id/xmlui/handle/123456789/4645</link>
<description>ANALISIS ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT PADA Ny. S DENGAN GAGAL GINJAL KRONIS MENGGUNAKAN INTERVENSI ICE CUBES UNTUK MENGURANGI RASA HAUS PADA PASIEN HIPERVOLEMIA DI ICU TERATAI RSUD BANGIL PASURUAN
Issabella, Claresta; Pratiwi, Chaterina
Gagal ginjal kronis (GGK) merupakan penurunan fungsi ginjal yang bersifat progresif dan ireversibel sehingga menyebabkan gangguan keseimbangan cairan. Pembatasan cairan yang diberikan pada pasien sering menimbulkan rasa haus sehingga menurunkan kenyamanan dan kepatuhan pasien. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan asuhan keperawatan pada pasien GGK dengan hipervolemia melalui pemberian terapi Ice Cubes untuk mengurangi rasa haus. Desain kasus deskriptif pada satu pasien GGK yang dirawat di ICU Teratai RSUD Bangil Pasuruan. Asuhan keperawatan dilakukan selama 3×24 jam melalui tahap pengkajian, diagnosis, intervensi, implementasi, dan evaluasi dengan pemberian terapi Ice Cubes 10 ml/hari selama 3 hari sesuai pembatasan cairan. Ice Cubes tersebut akan merangsang reseptor termal diteruskan melalui saraf kranial 5 (Nervus Trigeminus) menuju hipotalamus dan rangsangan tersebut akan memberikan kesegaran pada area mulut. Hasil menunjukkan rasa haus pasien berkurang hingga tidak dirasakan pada hari ketiga, disertai penurunan edema dari pitting edema +4 menjadi +2, peningkatan urine output dari 50 cc menjadi 60 cc/24 jam, serta penurunan tekanan darah dari 236/106 mmHg menjadi 130/90 mmHg. Terapi Ice Cubes efektif sebagai intervensi non-farmakologis untuk membantu mengurangi rasa haus dan meningkatkan kenyamanan pasien GGK dengan hipervolemia.
</description>
<pubDate>Thu, 16 Jul 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://repositori.ubs-ppni.ac.id/xmlui/handle/123456789/4645</guid>
<dc:date>2026-07-16T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
