| dc.description.abstract |
Tuberkulosis tidak hanya berdampak pada kondisi fisik, tetapi juga psikologis, seperti self-stigma yang dapat meningkatkan tingkat stres. Oleh karena itu, penelitian mengenai hubungan self-stigma dengan tingkat stres pada pasien tuberkulosis di wilayah kerja Puskesmas Purwosari Kabupaten Pasuruan perlu dilakukan. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis hubungan self-stigma dengan tingkat stres pada pasien tuberkulosis. Penelitian menggunakan desain analitik korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Sebanyak 50 responden dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Self-stigma diukur menggunakan Van Rie's TB Stigma Scale (VTSS) dan tingkat stres menggunakan Perceived Stress Scale (PSS-10). Analisis data menggunakan uji Spearman Rank dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan hampir setengah responden mengalami self-stigma kategori tinggi (46%), sedangkan sebagian besar mengalami stres berat (58%). Nilai p = 0,002 dengan koefisien korelasi r = 0,433 menunjukkan hubungan positif berkekuatan sedang antara self-stigma dan tingkat stres. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi self-stigma yang dialami pasien tuberkulosis, semakin tinggi tingkat stres yang dirasakan, sehingga aspek psikologis perlu menjadi perhatian selama proses pengobatan. |
en_US |