| dc.description.abstract |
Dismenore merupakan masalah kesehatan reproduksi yang sering dialami remaja putri akibat peningkatan prostaglandin yang memicu kontraksi uterus, sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman dan mengganggu aktivitas di lingkungan pesantren. Upaya non-farmakologis yang aman dan sederhana untuk mengurangi keluhan tersebut adalah pemberian kompres hangat. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh kompres hangat terhadap penurunan intensitas dismenore pada santriwati berusia 15–18 tahun di Pondok Pesantren Roudhotul Hikmah, Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik. Penelitian ini menggunakan desain quasi-experimental berbasis time series. Populasi penelitian terdiri dari 47 santriwati, dengan sampel sebanyak 24 responden yang dipilih secara purposive sampling sesuai kriteria inklusi. Data dikumpulkan menggunakan lembar observasi Numeric Rating Scale (NRS) sebelum dan sesudah intervensi kompres hangat selama 15–20 menit memakai bantalan pemanas elektrik, kemudian dianalisis menggunakan uji Wilcoxon signed rank. Hasil penelitian menunjukkan sebelum intervensi, sebagian besar responden berada pada kategori nyeri sedang, yaitu 21 responden (87,5%). Namun, setelah intervensi kompres hangat, mayoritas responden mengalami penurunan signifikan ke kategori nyeri ringan, yaitu 15 responden (62,5%). Uji statistik menghasilkan nilai p = 0,000 (p < 0,05) dengan nilai perbandingan Z = -4,300, yang menunjukkan perbedaan signifikan pada intensitas dismenore sebelum dan sesudah intervensi. Penurunan nyeri terjadi karena suhu hangat menginduksi vasodilatasi pembuluh darah lokal, meningkatkan sirkulasi oksigen, serta merelaksasi otot miometrium uterus yang iskemik. Selain itu, stimulasi hangat pada kulit memicu pelepasan endorfin, memblokir sinyal nyeri, dan menghasilkan efek analgesik secara menyeluruh. Kompres hangat terbukti efektif, aman, serta ekonomis sebagai terapi komplementer bagi santriwati. |
en_US |