| dc.description.abstract |
Diabetes melitus merupakan penyakit kronis yang memerlukan penatalaksanaan jangka panjang. Persepsi lansia terhadap penatalaksanaan diabetes dapat memengaruhi keberhasilan pengendalian penyakit. Interaksi sosial dalam kegiatan Prolanis diduga berperan dalam membentuk persepsi tersebut. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan interaksi sosial dengan persepsi lansia tentang penatalaksanaan Diabetes Melitus di wilayah kerja Puskesmas Puri Kabupaten Mojokerto. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain analitik korelasional dan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh lansia penderita Diabetes Melitus yang terdaftar sebagai peserta aktif Prolanis di wilayah kerja UPT Puskesmas Puri Kabupaten Mojokerto sebanyak 100 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan consecutive sampling, sehingga diperoleh sampel sebanyak 54 responden yang memenuhi kriteria inklusi. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner interaksi sosial dan kuesioner persepsi berdasarkan Health Belief Model (HBM). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi α = 0,05. Hasil analisis menunjukkan nilai koefisien Phi dan Cramer's V sebesar 0,417 menunjukkan kekuatan hubungan kategori sedang. Namun, sebanyak 25 responden dengan interaksi sosial baik masih memiliki persepsi negatif yang diduga dipengaruhi oleh tingginya perceived barriers, seperti kesulitan menjalankan pengobatan, mengatur pola makan, dan kekhawatiran terhadap efek samping terapi. Disimpulkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara interaksi sosial dengan persepsi lansia tentang penatalaksanaan diabetes melitus. Namun, interaksi sosial yang baik belum tentu diikuti oleh persepsi yang positif sehingga diperlukan edukasi kesehatan berkelanjutan untuk mengurangi hambatan yang dirasakan dan meningkatkan pemahaman lansia mengenai penatalaksanaan diabetes melitus. |
en_US |