| dc.description.abstract |
Chronic Kidney Disease merupakan penyakit ireversibel yang menyebabkan
gangguan struktur dan fungsi ginjal. Pasien CKD yang menjalani hemodialisa
harus melakukan terapi secara rutin dan berkelanjutan, sehingga dapat
menimbulkan tekanan fisik maupun psikologis yang berisiko meningkatkan
tingkat stres. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan frekuensi
hemodialisa dengan tingkat stres pada pasien CKD di Ruang Hemodialisa IHC RS
Gatoel Kota Mojokerto. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan
pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 210 pasien
CKD yang menjalani hemodialisa, dengan sampel sebanyak 68 responden yang
dipilih menggunakan consecutive sampling. Instrumen yang digunakan adalah
kuesioner Hemodialysis Stressors Scale (HSS) untuk mengukur tingkat stres,
sedangkan data frekuensi hemodialisa diperoleh dari rekam medis. Analisis data
dilakukan menggunakan uji Spearman Rho. Hasil penelitian menunjukkan nilai
p=0,000 dengan α < 0,05, yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara
frekuensi hemodialisa dan tingkat stres pada pasien CKD. Nilai koefisien korelasi
r=0,798 menunjukkan hubungan yang kuat. Semakin sering frekuensi
hemodialisa, semakin tinggi tingkat stres pasien, sedangkan pasien dengan
frekuensi 1 kali per minggu cenderung memiliki tingkat stres yang lebih ringan.
Frekuensi hemodialisa yang lebih sering dapat meningkatkan beban psikologis
pasien akibat terapi yang berulang, pembatasan aktivitas, dan penyesuaian
terhadap kondisi penyakit. Oleh karena itu, diperlukan dukungan keluarga dan
pendampingan psikologis agar pasien mampu beradaptasi dengan lebih baik. |
en_US |