| dc.description.abstract |
Stroke menyebabkan kerusakan otot yang mengatur aktvitas motorik sehingga aktivasi serabut otot tidak bekerja maksimal yang menyebabkan penurunan kekuatan otot. Terapi genggam bola merupakan salah satu latihan rehabilitasi untuk meningkatkan kekuatan otot. Penelitian ini bertujuan membandingkan terapi genggam bola bergerigi dan bola halus terhadap kekuatan otot ekstremitas atas pada pasien stroke di Unit Stroke RSPAL dr. Ramelan Surabaya. Penelitian menggunakan desain quasi experiment dengan two group pretest-posttest design. Sampel berjumlah 34 responden yang dipilih menggunakan purposive sampling, terdiri atas 17 responden kelompok bola bergerigi dan 17 responden kelompok bola halus. Kekuatan otot diukur menggunakan Medical Research Council (MRC) Scale dan dianalisis dengan uji Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kelompok bola bergerigi, sebelum intervensi sebagian besar responden memiliki skala MRC 2 yaitu sebanyak 64,7%, sedangkan sesudah intervensi hampir setengah memiliki skala MRC 3 yaitu sebanyak 47,1%. Pada kelompok bola halus, sebelum intervensi sebagian besar responden memiliki skala MRC 2 yaitu sebanyak 70,6%, sedangkan sesudah intervensi sebagian besar memiliki skala MRC 3 yaitu sebanyak 52,9%. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan kekuatan otot yang signifikan pada kedua kelompok (p = 0,000), sehingga ada perbedaan kekuatan otot sebelum dan sesudah terapi genggam bola bergerigi maupun bola halus pada pasien stroke. Peningkatan tersebut terjadi karena latihan menggenggam secara berulang memberikan rangsangan sensorik dan motorik yang mengaktifkan kembali jalur saraf serta meningkatkan rekrutmen unit motorik. Stimulasi ini mendukung terjadinya neuroplastisitas, sehingga koordinasi gerak dan kekuatan otot ekstremitas atas meningkat secara bertahap. |
en_US |