| dc.description.abstract |
Abortus incomplet merupakan kondisi keguguran yang dapat menimbulkan dampak fisik maupun psikologis pada perempuan, termasuk kesulitan dalam menerima kehilangan kehamilan. Salah satu mekanisme yang dapat membantu pasien menghadapi kondisi tersebut adalah spiritual coping , yaitu upaya individu menggunakan keyakinan dan aktivitas spiritual untuk menghadapi tekanan dan permasalahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan spiritual coping dengan penerimaan diri pada pasien pasca curettage dengan indikasi abortus incomplet di Rumah Sakit Kesdam V Brawijaya Surabaya. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif. Sampel penelitian sebanyak 20 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner spiritual coping dan penerimaan diri. Analisis hubungan kedua variabel menggunakan uji Spearman’s rho. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki spiritual coping dalam kategori baik sebanyak 13 responden (65,0%), sedangkan penerimaan diri sebagian besar berada dalam kategori baik sebanyak 9 responden (45,0%). Hasil uji Spearman’s rho diperoleh nilai koefisien korelasi sebesar 0,755 dengan p-value 0,000 (p<0,05), yang menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan, kuat, dan positif antara spiritual coping dengan penerimaan diri. Semakin baik spiritual coping yang dimiliki pasien, semakin baik pula penerimaan dirinya setelah menjalani curettage. Diharapkan pasien dapat meningkatkan spiritual coping sesuai keyakinan masing-masing, sedangkan tenaga kesehatan dapat memberikan dukungan psikologis dan spiritual sebagai bagian dari asuhan keperawatan yang holistik. Kata kunci: spiritual coping , penerimaan diri, curettage. |
en_US |