Abstract:
Asuhan Continuity of Care (CoC) merupakan pelayanan kebidanan komprehensif dan berkesinambungan yang mencakup masa kehamilan, persalinan, nifas, neonatus, hingga keluarga berencana. Perdarahan postpartum (HPP) merupakan penyebab utama kematian ibu di dunia dan berkontribusi terhadap lebih dari 70.000 kematian maternal setiap tahun. HPP adalah perdarahan lebih dari 500 mL setelah persalinan pervaginam yang dapat menyebabkan syok, kegagalan organ, bahkan kematian apabila tidak ditangani secara cepat dan tepat. Salah satu upaya untuk menurunkan risiko komplikasi maternal akibat HPP adalah melalui penerapan asuhan kebidanan berkesinambungan (Continuity of Care/CoC). Laporan ini menggunakan metode studi kasus dengan pendekatan Continuity of Care yang diberikan secara berkesinambungan sejak masa kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir, hingga pelayanan keluarga berencana. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, studi dokumentasi, serta pendokumentasian menggunakan metode SOAP. Asuhan diberikan kepada Ny. M usia 26 tahun di Puskesmas Dawar Blandong Mojokerto. Pada tanggal 4 Januari 2026, Ny. M mengalami perdarahan postpartum dengan estimasi kehilangan darah ±600 mL setelah persalinan. Penatalaksanaan yang dilakukan meliputi pemberian oksitosin, masase uterus, kompresi bimanual, pemberian misoprostol sesuai instruksi dokter, serta rujukan ke fasilitas kesehatan lanjutan. Setelah mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat, kondisi ibu dan bayi dapat dipertahankan dengan baik serta proses pemulihan berlangsung optimal. Penerapan Continuity of Care membantu bidan dalam melakukan deteksi dini faktor risiko, pemantauan kondisi ibu secara berkelanjutan, serta mempercepat pengambilan keputusan dan proses rujukan saat terjadi kegawatdaruratan obstetri. Upaya pencegahan HPP dapat dilakukan melalui pemeriksaan antenatal yang teratur, identifikasi faktor risiko sejak kehamilan, pelaksanaan manajemen aktif kala III, pemantauan ketat pada masa nifas, serta peningkatan kesiapsiagaan tenaga. Dengan demikian, kualitas pelayanan kebidanan dapat ditingkatkan sehingga risiko terjadinya HPP dan komplikasi maternal dapat diminimalkan.