Abstract:
Lansia merupakan kelompok usia yang rentan mengalami berbagai perubahan fisik, psikologis, dan sosial akibat proses penuaan. Pada lansia dengan diabetes melitus, tuntutan pengelolaan penyakit yang berlangsung dalam jangka panjang dapat menimbulkan tekanan emosional yang dikenal sebagai diabetes distress. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kemampuan lansia dalam melakukan self care yang meliputi pengaturan pola makan, aktivitas fisik, pemantauan kadar gula darah, kepatuhan pengobatan, dan perawatan kaki. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan diabetes distress dengan self care pada lansia diabetes melitus di Puskesmas Ngoro. Penelitian ini menggunakan desain analitik korelasional dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilakukan pada lansia diabetes melitus yang mengikuti program Prolanis di Puskesmas Ngoro. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan jumlah sampel 52 responden. Instrumen yang digunakan untuk mengukur diabetes distress adalah Diabetes Distress Scale (DDS-17) dan untuk mengukur self care menggunakan Summary of Diabetes Self-Care Activities (SDSCA). Analisis data menggunakan uji Spearman Rho. Hasil penelitian menunjukkan hampir setengah responden mengalami diabetes distress kategori sedang sebanyak 24 responden (46,2%) dan sebagian besar responden memiliki self care kategori baik sebanyak 36 responden (69,2%). Hasil uji Spearman Rho diperoleh nilai p-value = 0,001 (<0,05) dengan nilai koefisien korelasi (r) = 0,448 yang menunjukkan kekuatan hubungan sedang. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara diabetes distress dengan self care pada lansia diabetes melitus di Puskesmas Ngoro. Semakin rendah tingkat diabetes distress yang dialami lansia, maka semakin baik self care yang dilakukan.