DSpace Repository

KORELASI ANTARA DERAJAT OBSTRUKSI SALURAN NAPAS DENGAN DERAJAT DYSPNEA PADA PASIEN PPOK DI RSI SAKINAH

Show simple item record

dc.contributor.author Nabila, Refin Amanda Putri
dc.contributor.author Yuniarti, Enny Virda
dc.contributor.author Sudarsih, Sri
dc.date.accessioned 2026-07-17T01:58:34Z
dc.date.available 2026-07-17T01:58:34Z
dc.date.issued 2026-06-25
dc.identifier.uri https://repositori.ubs-ppni.ac.id/xmlui/handle/123456789/4389
dc.description.abstract Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan penyakit paru kronis yang ditandai dengan obstruksi saluran napas sehingga menimbulkan sesak napas (dyspnea). Namun kenyataan yang ada saat ini adalah masih banyak pasien PPOK yang mengalami peningkatan derajat dyspnea akibat memburuknya obstruksi saluran napas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui korelasi antara derajat obstruksi saluran napas dengan derajat dyspnea pada pasien PPOK di RSI Sakinah. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional, populasi pada penelitian ini sebanyak 59 pasien PPOK di RSI Sakinah, sampling yang digunakan pada penelitian ini menggunakan consecutive sampling sehingga didapatkan sampel sebanyak 55 sampel. Variabel pada penelitian ini adalah derajat obstruksi saluran napas dan derajat dyspnea. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan SOP, lembar observasi dan kuesioner dyspnea (D 12). Analisis data dilakukan dengan uji Spearman Rho dengan SPSS versi 21. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar derajat obstruksi saluran napas pada kategori sedang sebanyak 30 responden (54,5%) dan sebagian besar derajat dyspnea berada pada kategori sedang sebanyak 39 responden (70,9%), p-value sebesar 0,002 dan Nilai koefisien korelasi sebesar 0,407 sehingga H0 ditolak artinya terdapat hubungan derajat obstruksi saluran napas dengan derajat dyspnea pada pasien PPOK dengan keeratan hubungan sedang dan hasil positif dimaknai semakin tinggi derajat obstruksi saluran napas seseorang maka semakin tinggi derajat dyspnea begitupula sebaliknya. Kondisi hiperinflasi menyebabkan diafragma mendatar dan kurang efektif, sehingga otot bantu napas bekerja lebih keras. Akibatnya terjadi ketidaksesuaian antara dorongan napas dan respons paru yang diperparah oleh hipoksia, sehingga pasien merasakan sesak napas (dyspnea) yang semakin berat. en_US
dc.language.iso other en_US
dc.publisher Perpustakaan Universitas Bina Sehat PPNI en_US
dc.subject Derajat Dyspnea en_US
dc.subject Derajat Obstruksi Saluran Napas en_US
dc.subject PPOK en_US
dc.title KORELASI ANTARA DERAJAT OBSTRUKSI SALURAN NAPAS DENGAN DERAJAT DYSPNEA PADA PASIEN PPOK DI RSI SAKINAH en_US
dc.type Thesis en_US


Files in this item

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record

Search DSpace


Advanced Search

Browse

My Account