Abstract:
Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan penyakit paru kronis
yang ditandai dengan obstruksi saluran napas sehingga menimbulkan sesak napas
(dyspnea). Namun kenyataan yang ada saat ini adalah masih banyak pasien PPOK
yang mengalami peningkatan derajat dyspnea akibat memburuknya obstruksi
saluran napas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui korelasi antara derajat
obstruksi saluran napas dengan derajat dyspnea pada pasien PPOK di RSI Sakinah.
Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross
sectional, populasi pada penelitian ini sebanyak 59 pasien PPOK di RSI Sakinah,
sampling yang digunakan pada penelitian ini menggunakan consecutive sampling
sehingga didapatkan sampel sebanyak 55 sampel. Variabel pada penelitian ini
adalah derajat obstruksi saluran napas dan derajat dyspnea. Pengumpulan data
dilakukan dengan menggunakan SOP, lembar observasi dan kuesioner dyspnea (D
12). Analisis data dilakukan dengan uji Spearman Rho dengan SPSS versi 21. Hasil
penelitian menunjukkan sebagian besar derajat obstruksi saluran napas pada
kategori sedang sebanyak 30 responden (54,5%) dan sebagian besar derajat dyspnea
berada pada kategori sedang sebanyak 39 responden (70,9%), p-value sebesar 0,002
dan Nilai koefisien korelasi sebesar 0,407 sehingga H0 ditolak artinya terdapat
hubungan derajat obstruksi saluran napas dengan derajat dyspnea pada pasien
PPOK dengan keeratan hubungan sedang dan hasil positif dimaknai semakin tinggi
derajat obstruksi saluran napas seseorang maka semakin tinggi derajat dyspnea
begitupula sebaliknya. Kondisi hiperinflasi menyebabkan diafragma mendatar dan
kurang efektif, sehingga otot bantu napas bekerja lebih keras. Akibatnya terjadi
ketidaksesuaian antara dorongan napas dan respons paru yang diperparah oleh
hipoksia, sehingga pasien merasakan sesak napas (dyspnea) yang semakin berat.