Abstract:
Lansia mengalami penurunan kapasitas fungsional serta perubahan fisik, psikologis, dan sosial. Salah satu masalah psikososial yang sering terjadi adalah kesepian akibat kehilangan pasangan, pensiun, dan berkurangnya interaksi sosial. Kesepian berkepanjangan dapat menimbulkan stres psikologis yang berdampak pada gangguan dan penurunan kualitas tidur. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan kesepian dengan kualitas tidur pada lansia di Desa Sidokaton. Penelitian ini menggunakan desain analitik korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Responden adalah lansia berusia ≥60 tahun di Desa Sidokaton yang telah kehilangan pasangan hidup. Sampel dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Tingkat kesepian diukur menggunakan UCLA Loneliness Scale, sedangkan kualitas tidur diukur menggunakan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Analisis hubungan dilakukan dengan uji Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara kesepian dan kualitas tidur pada lansia di Desa Sidokaton dengan p-value = 0,002 (<0,05) dan koefisien korelasi 0,330, yang artinya terdapat hubungan positif dengan kekuatan korelasi rendah. Hubungan positif menunjukkan bahwa semakin berat tingkat kesepian, maka kualitas tidur lansia cenderung semakin buruk. Meskipun memiliki kekuatan hubungan rendah, kesepian tetap menjadi salah satu faktor yang berhubungan dengan kualitas tidur lansia. Lansia di Desa Sidokaton diharapkan dapat lebih aktif mengikuti berbagai kegiatan sosial seperti posyandu lansia, pengajian, maupun kegiatan masyarakat lainnya yang dilaksanakan secara rutin di lingkungan tempat tinggalnya.