Abstract:
Timbang terima (handover) merupakan proses komunikasi antarperawat yang berperan penting dalam menjamin kesinambungan asuhan keperawatan, mutu pelayanan, dan keselamatan pasien. Hasil observasi di Ruang SGJ RSIS menunjukkan bahwa timbang terima telah dilaksanakan secara rutin tiga kali sehari menggunakan metode komunikasi Situation, Background, Assessment, Recommendation (SBAR) dan didukung aplikasi ZCare. Namun, masih ditemukan beberapa kendala, yaitu belum tersedianya Standar Operasional Prosedur (SOP) khusus timbang terima antar shift serta belum optimalnya penerapan bedside handover pada seluruh pergantian shift. Kegiatan ini bertujuan mengoptimalkan pelaksanaan timbang terima sesuai SOP melalui program peningkatan mutu. Metode yang digunakan meliputi observasi, wawancara, penyebaran kuesioner kepada sembilan perawat, analisis SWOT, diseminasi SOP, pelatihan komunikasi SBAR dan bedside handover, role play, usulan supervisi berkala oleh kepala ruangan, serta evaluasi kepatuhan terhadap SOP. Hasil kuesioner menunjukkan bahwa sebanyak 77,8% perawat memberikan penilaian pada kategori Sangat Baik dan 22,2% pada kategori Baik terhadap pelaksanaan timbang terima. Selain itu, kepala ruangan berkomitmen untuk melaksanakan supervisi secara berkala. Setelah implementasi, perawat memahami SOP dan komunikasi SBAR, mampu mempraktikkan timbang terima melalui role play, serta sebagian besar telah melaksanakan timbang terima sesuai SOP tanpa ditemukan miskomunikasi selama periode observasi. Optimalisasi melalui diseminasi SOP, simulasi, dan supervisi berkala mampu meningkatkan kepatuhan perawat terhadap pelaksanaan timbang terima sesuai SOP, memperkuat penerapan komunikasi SBAR, serta mendukung kesinambungan asuhan keperawatan dan keselamatan pasien. Supervisi dan evaluasi secara berkala perlu dipertahankan untuk menjaga konsistensi pelaksanaan timbang terima pada setiap pergantian shift.