Abstract:
Sikap keluarga dalam penanganan awal gejala stroke yang masih kurang tepat, seperti menunda membawa pasien ke fasilitas kesehatan atau memijat anggota tubuh yang lemah, dapat meningkatkan risiko kecacatan dan kematian. Penanganan yang cepat dan tepat pada fase awal stroke merupakan faktor penting dalam menurunkan risiko kecacatan permanen dan kematian, sehingga keluarga memiliki peran sebagai penolong pertama sebelum pasien mendapatkan pelayanan kesehatan. Kondisi tersebut juga ditemukan di Dusun Ngingas sehingga diperlukan upaya edukasi yang efektif. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh pendidikan kesehatan dengan metode audiovisual terhadap sikap keluarga pada penanganan awal gejala stroke di Dusun Ngingas. Penelitian ini menggunakan desain quasi experiment dengan pendekatan one group pre-test post-test design. Pengambilan sampel mengimplementasikan teknik total sampling. Instrumen pengumpulan data memanfaatkan kuesioner sikap model skala Likert bermuatan 8 item kuisioner (diberikan pada fase pra dan pasca-edukasi audiovisual), yang selanjutnya dikomputasi menggunakan uji non-parametrik Wilcoxon Signed-Rank Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum intervensi sebagian besar responden memiliki sikap negatif sebanyak 23 responden (57,5%), sedangkan setelah intervensi sebagian besar memiliki sikap positif sebanyak 31 responden (77,5%). Hasil uji Wilcoxon menunjukkan nilai Z = -3,300 dengan Asymp. Sig. (2-tailed) = 0,001 (p < 0,05) dan effect size (r) = 0,52 yang termasuk kategori large effect. Temuan ini membuktikan bahwasanya perlakuan edukasi media audio-visual berdampak nyata terhadap perbaikan kecenderungan sikap keluarga pada pertolongan dini gejala stroke. Penggunaan media ini layak direkomendasikan sebagai sarana promosi kesehatan yang adekuat demi meningkatkan ketgaphan keluarga merespons kondisi darurat stroke secara sigap