Abstract:
Risiko bunuh diri merupakan kondisi ketika individu berisiko melakukan tindakan yang membahayakan dirinya sendiri. Pasien biasanya menunjukkan perasaan putus asa, tidak berharga, kehilangan motivasi hidup, menarik diri dari lingkungan, dan muncul pikiran untuk mengakhiri hidup. Salah satu intervensi nonfarmakologis yang dapat diberikan adalah terapi guided imagery untuk membantu relaksasi, mengendalikan emosi, dan mengurangi pikiran negatif. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus deskriptif dengan pendekatan proses keperawatan pada Ny. N dengan diagnosis keperawatan risiko bunuh diri. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, dokumentasi, serta data sekunder dari ERM. Intervensi diberikan melalui Strategi Pelaksanaan (SP) Risiko Bunuh Diri yang dipadukan dengan terapi Guided imagery selama lima kali pertemuan pada tanggal 7–11 Mei 2026. Hasil menunjukkan klien mampu membina hubungan saling percaya, mengidentifikasi pencetus perilaku menyakiti diri, mempertahankan safety contract, mengenali aspek positif diri, memilih koping yang lebih adaptif, dan menyusun rencana masa depan yang realistis. Terapi Guided imagery membantu klien merasa lebih rileks, mengurangi pikiran negatif, meningkatkan kontrol diri terhadap dorongan menyakiti diri, serta menumbuhkan harapan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik. Pada akhir intervensi, klien menyatakan tidak lagi memiliki keinginan untuk menyakiti diri dan mampu menjelaskan strategi yang akan dilakukan ketika menghadapi tekanan emosional.