Abstract:
Osteoartritis lutut merupakan penyakit sendi degeneratif pada lansia
yang dipengaruhi oleh Indeks Massa Tubuh (IMT). Penelitian ini bertujuan
menganalisis hubungan IMT dengan tingkat keparahan osteoartritis lutut pada
lansia di UPTD Puskesmas Bangsal Kabupaten Mojokerto. Penelitian analitik
korelasional dengan pendekatan cross-sectional ini melibatkan 30 sampel dari 50
populasi lansia penderita osteoartritis lutut melalui consecutive sampling. Kriteria
inklusi meliputi lansia berusia >50 tahun dan pasien rawat jalan aktif. Pengukuran
IMT menggunakan timbangan dan microtoise, sedangkan tingkat keparahan diukur
dengan kuesioner WOMAC. Analisis data menggunakan uji Spearman's Rho (𝛼 =
0,05). Mayoritas responden memiliki IMT Obesitas 1 sebanyak 11 orang (36,7%),
diikuti Normal 9 orang (30,0%), Overweight 5 orang (16,7%), Kurus 3 orang
(10,0%), dan Obesitas 2 sebanyak 2 orang (6,7%). Tingkat keparahan dominan
kategori ringan sebanyak 13 orang (43,3%), sedang 8 orang (26,7%), berat 7 orang
(23,3%), dan sangat berat sebanyak 2 orang (6,7%). Uji Spearman's Rho
menunjukkan hubungan signifikan yang kuat dan positif antara IMT dengan
keparahan osteoartritis lutut (𝑝 < 0,001; 𝑟 = 0,782), yang berarti semakin tinggi
IMT, semakin tinggi tingkat keparahan yang dialami sebaliknya semakin rendah
IMT maka semakin rendah pula tingkat Keparahan Osteoartritis lutut pada lansia.
Secara patofisiologis, mechanical overload dan inflamasi sistemik pada lansia
obesitas mempercepat kerusakan kartilago lutut. Implikasinya, diperlukan program
manajemen berat badan dan latihan fisik ramah sendi (low-impact exercise) di
Puskesmas guna mencegah penurunan fungsi fisik lansia.