Abstract:
Kinerja perawat merupakan komponen penting dalam mendukung mutu pelayanan kesehatan primer. Perawat Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu memiliki karakteristik pekerjaan dan sistem kepegawaian yang dapat memengaruhi kinerja. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh motivasi, lingkungan kerja, dan kompensasi terhadap kinerja perawat PPPK Paruh Waktu di wilayah kerja Puskesmas Kabupaten Bangkalan serta mengidentifikasi faktor paling dominan. Penelitian menggunakan desain kuantitatif analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi berjumlah 442 perawat PPPK Paruh Waktu di 22 Puskesmas Kabupaten Bangkalan. Sampel sebanyak 210 responden ditentukan menggunakan rumus Slovin dengan teknik proportionate random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis secara univariat, bivariat, serta multivariat menggunakan regresi linier berganda. Secara deskriptif, median skor motivasi sebesar 46,50 (rentang 27,00–50,00), lingkungan kerja 42,00 (rentang 12,00–50,00), kompensasi 34,50 (rentang 12,00–50,00), dan kinerja 48,00 (rentang 35,00–50,00). Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa pada pemodelan awal, motivasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja (B = 0,438; p < 0,001), lingkungan kerja berpengaruh positif dan signifikan (B = 0,222; p < 0,001), sedangkan kompensasi tidak berpengaruh signifikan (B = -0,006; p = 0,837) sehingga dikeluarkan dari model. Pemodelan akhir menunjukkan bahwa motivasi (B = 0,439; Beta = 0,424; p < 0,001) dan lingkungan kerja (B = 0,217; Beta = 0,268; p < 0,001) secara bersama-sama membentuk model determinan yang signifikan (F = 67,334; p < 0,001) dan mampu menjelaskan 38,8% variasi kinerja perawat (Adjusted R² = 0,388). Motivasi merupakan faktor paling dominan yang memengaruhi kinerja. Persamaan regresi akhir yang diperoleh adalah: Kinerja Perawat = 16,201 + 0,439(Motivasi) + 0,217(Lingkungan Kerja). Temuan ini menunjukkan bahwa motivasi dan lingkungan kerja menjadi aspek penting dalam membentuk kinerja perawat, sementara kompensasi tidak memberikan kontribusi signifikan dalam model determinan. Peningkatan motivasi intrinsik dan penguatan lingkungan kerja yang suportif perlu menjadi prioritas dalam upaya meningkatkan kinerja perawat PPPK Paruh Waktu