Abstract:
Kecemasan antisipatif (anticipatory anxiety) menjelang pemeriksaan tekanan darah diduga menjadi salah satu unsur psikologis yang memengaruhi hasil pengukuran melalui mekanisme White Coat Hypertension (WCH), sehingga berpotensi menghambat tercapainya target terapi meski pasien patuh mengonsumsi obat. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara tingkat kecemasan dengan hasil pengukuran tekanan darah pada penderita hipertensi yang menjalani terapi obat di wilayah Prolanis UPT Puskesmas Sooko. Rancangan penelitian bersifat kuantitatif, deskriptif korelasional, dengan pendekatan cross-sectional. Populasi mencakup peserta aktif Prolanis di wilayah UPT Puskesmas Sooko, dengan sampel 60 responden yang ditentukan melalui total sampling. Variabel independen berupa tingkat kecemasan diukur menggunakan instrumen SHAI-18, Variabel dependen berupa kategori tekanan darah dinilai berdasarkan klasifikasi AHA. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman dengan taraf signifikansi p < 0,05. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden mengalami kecemasan ringan sebanyak 31 orang (51,7%) dan kecemasan sedang 29 responden (48,3%). Tekanan darah mayoritas berada pada kategori Stage 2 sebanyak 32 orang (53,3%), diikuti Elevated 15 responden (25,0%), Normal 8 responden (13,3%), dan Stage 1 sebanyak 5 responden (8,3%). Uji Spearman menunjukkan terdapat hubungan positif yang kuat antara tingkat kecemasan dan hasil pengukuran tekanan darah (r =0,759, p<0,05). Hasil penelitian menunjukkan pentingnya memperhatikan aspek psikologis, khususnya kecemasan antisipatif, dalam pelayanan Prolanis agar hasil pengukuran tekanan darah lebih optimal.