Abstract:
Masalah perkawinan anak adalah faktor risiko yang berkontribusi terhadap kejadian
stunting, yang merupakan masalah gizi kronis berdampak pada pertumbuhan fisik dan
perkembangan kognitif anak serta masih menjadi isu kesehatan masyarakat di Indonesia,
terutama di wilayah dengan pengaruh budaya lokal. Penelitian ini bertujuan mengetahui
hubungan perkawinan anak dengan kejadian stunting di Puskesmas Sayosa, Kabupaten
Sorong Provinsi Papua Barat Daya Tahun 2025. Penelitian ini menggunakan desain
kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional pada 46 Ibu yang memiliki anak
pertama balita berusia >24 bulan dengan menerapkan teknik non-probability sampling
dengan metode total sampling. Variabel independent dalam penelitian ini adalah
perkawinan anak sedangkan variabel dependen adalah kejadian stunting. Data sekunder
diperoleh dari program KIA dan Gizi Puskesmas dan dianalisis menggunakan uji Chi-
Square (α = 0,05). Hasil menunjukkan nilai χ² hitung 10,61 lebih besar dari χ² tabel 5,991,
sehingga terdapat hubungan signifikan antara perkawinan anak dan kejadian stunting.
Temuan ini menunjukkan perkawinan anak berkontribusi terhadap risiko stunting melalui
faktor biologis, sosial, dan ekonomi. Kebaruan penelitian ini terletak pada identifikasi
perkawinan anak yang dipengaruhi budaya lokal berhubungan dengan stunting. Implikasi
penelitian menekankan perlunya integrasi pencegahan perkawinan anak dalam program
penurunan stunting melalui edukasi, penguatan pencatatan perkawinan, dan kebijakan
lintas sektor.