Abstract:
Asma adalah penyakit yang ditandai dengan stenosis jalan napas yang luas dan
respons terhadap rangsangan yang berbeda dari trakea dan bronkus menyebabkan
pola nafas tidak efekti. Tujuan penelitian ini adalah untuk melaksanakan asuhan
keperawatan pada pasien asma dengan masalah dengan masalah keperawatan pola
nafas tidak efektif melui penerapan kombinasi buteyko breating dan posisi
ortopnea. Karya ilmiah akhir ners ini menggunakan desain penelitian deskriptif.
Subjek studi kasus yaitu 1 responden dengan asma. Instrumen yang digunakan
format pengkajian keperawatan medikal bedah. Diagnosis keperawatan yaitu Pola
napas tidak efektif b/d hambatan upaya napas d/d pasien mengeluh sesak napas,
terpasang oksigen nasal 3 lpm, Penggunaan otot bantu pernapasan, Fase ekspirasi
memanjang, Adanya suara napas tambahan (terdapat wheezing), Spo2: 98% dengan
nasal 3 lpm, RR: 25x permenit, pernafasan cuping hidung. Intervensi keperawatan
menggunakan manajemen jalan nafas yang berfokus pada pemberian terapi posisi
ortopnea dan pernafasan buteyko. Implementasi yang dilakukan sebanyak 2x sehari
dan di ulang selama 3 hari, dengan lama pemberian 20 menit per sesi. Evaluasi
didapatkan hasil masalah pola nafas tidak efektif di hari ke tiga dengan data Pasien
mengatakan bahwa sudah tidak merasa sesak, GCS: 4/5/6, TD: 105/72 mmHg, N:
87x/menit, rr:21x/menit, Spo2: 100%, Dispnea sudah tidak dirasakan, Penggunaan
otot bantu napas tidak ada, pemanjangan fase ekspirasi menurun. Dari data tersebut
dapat disimpulkanbahwa penerapan buteyko dan posisi ortopnea dapat
memperbaiki pola nafas tidak efektif pada pasien asma. Terapi buteyko dan posisi
ortopnea dapat memperbaiki pola napas tidak efektif dengan meningkatkan
ventilasi paru dan mengurangi sesak napas. latihan buteyko membantu mengontrol
pola pernapasan, sedangkan posisi ortopnea memudahkan ekspansi paru sehingga
pernapasan menjadi lebih efektif dan nyaman.