Abstract:
Discharge planning merupakan komponen krusial dalam asuhan
keperawatan yang menjamin kesinambungan perawatan mandiri pasien di rumah
serta meminimalkan risiko rehospitalisasi. Pelaksanaan yang optimal sangat
bergantung pada kompetensi manajerial dan pengalaman klinis perawat pelaksana.
Dengan metode Studi deskriptif analitis ini bertujuan untuk mengevaluasi
penerapan discharge planning di Ruang Rawat Inap Jasil RSGM. Pengumpulan
data dilakukan pada April 2026 melalui wawancara, observasi, dan pengisian
kuesioner oleh 17 responden perawat, yang kemudian dianalisis menggunakan
analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threat). Hasil pengkajian
menunjukkan mayoritas sumber daya manusia keperawatan berada pada usia
produktif <35 tahun (70,6%), berpendidikan profesi Ners (76,5%), dan memiliki
masa kerja matang >5 tahun (82,4%). Evaluasi kuantitatif menunjukkan bahwa
implementasi discharge planning berjalan dengan sangat optimal, di mana 72,2%
perawat berada dalam kategori baik, 16,7% dalam kategori sangat baik, dan hanya
11,1% dalam kategori cukup. Analisis SWOT mengonfirmasi posisi tata kelola
klinis berada pada kuadran kekuatan-peluang (Strength-Opportunity), yang
didukung secara struktural oleh ketersediaan Standar Prosedur Operasional (SPO)
yang jelas. Karakteristik klinis yang matang serta jenjang pendidikan Ners
berkorelasi positif terhadap efektivitas komunikasi terapeutik perawat saat
memberikan edukasi pemulangan. Namun, tantangan berupa integrasi format
penilaian awal ke dalam sistem Electronic Medical Record (EMR) masih
memerlukan penyelarasan sistemik agar pendokumentasian dapat dilakukan secara
berkala sejak pasien pertama kali masuk rumah sakit. Kesimpulannya, manajemen
discharge planning telah diterapkan dengan sangat baik, namun optimalisasi sistem
informasi digital mutlak diperlukan untuk efisiensi berkelanjutan.